Sibling rivalry
Pulang kerja, capek-capek, belum 5 menit duduk di rumah, si adik dateng nangis-nangis mengadu katanya dicubit sama si kakak. Si kakak ketika ditanya berkata bahwa ia kesal karena si adik mengambil mainannya. Rasanya seperti langsung emosi. Apalagi kalau hal seperti ini terjadi berulang-ulang setiap hari. Padahal setiap kali mereka berantem sudah kamu berikan nasehat, sudah diomelin, tapi rasanya tidak ada yang mempan.
Apakah kamu sebagai orang tua pernah mengalami perasaan seperti di atas? Emosi dan lelah menghadapi anak yang berantem terus bersama saudaranya. Tapi sebenarnya, apa yang membuat mereka berantem terus? Kenapa kakak adik itu seperti tidak suka satu sama lain? Yuk, kita mengenal apa itu Sibling Rivalry!
Apa itu sibling rivalry?
Adik-kakak kok berantem terus?

Apa itu sibling rivalry?

Hal utama yang harus diingat adalah bahwa pertengkaran antara kakak dan adik itu bukan suatu hal sepele yang akan berlalu seiring pertumbuhan mereka. Pertengkaran ini berakar pada emosi yang sangat kuat yang kemungkinan sudah mulai hadir bahkan sebelum si adik lahir, yaitu perasaan cemburu. Cemburu karena ibu lebih memperhatikan kebutuhan adik bayi. Cemburu karena papa bergegas mengganti popok adik saat sedang bermain. Cemburu karena om tante yang biasanya datang untuk bermain dengan kakak sekarang datang membawa hadiah dan lebih memperhatikan adik. Segala perhatian yang ia dapatkan sebelumnya, kini beralih pada manusia kecil yang tiba-tiba datang ke rumah!
Seiring berjalannya waktu, ketika si adik sudah mulai paham lingkungannya, ia juga akan melihat bahwa ada kakak yang dipuji ketika melakukan ini itu, ada kakak yang juga disayang oleh mama dan papa, dan sebagainya. Bibit ini sudah ada dan akan mulai tumbuh pada pertengkaran pertama mereka. Mungkin kakak yang cemburu tadi akan mulai memukul atau mencubit adiknya. Orangtua yang melihatnya pasti akan memarahi kakak karena takut melukai si adik. Si adik juga mulai merasa bahwa si kakak tidak menyukai dirinya. Hal ini tumbuh terus dan berkembang seiring berjalannya waktu. Dan seperti pohon, pertumbuhannya bukan hanya ke atas namun ke dalam, mengakar, dan membuat pohon itu sulit untuk dicabut.
Lalu apa yang harus orangtua lakukan? Pertama-tama, sebagai orang tua, kamu harus menyadari bahwa sibling rivalry ini tumbuh secara alami dan pasti terjadi di setiap anak, baik disadari maupun tidak. Yang harus kita perhatikan adalah intensitas dari rivalry tersebut agar tidak meninggalkan sakit hati dan dampak yang berkepanjangan. Seperti yang sudah disampaikan di atas, dasar dari sibling rivalry adalah perasaan cemburu karena mereka harus membagi kasih sayang dan perhatian orangtua dengan orang lain.
Kemampuan kognitif anak yang belum mampu berpikir secara abstrak menyebabkan mereka memandang kasih sayang dan perhatian orangtua seperti sebuah kue. Di mana mereka harus berlomba untuk mendapatkan bagian terbesar dari kue tersebut. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka tetap merasakan kasih sayang dan perhatian itu.
Live Your Super Life Be Super You

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Nah, teman-teman Super You di Beyond Childhood menyiapkan beberapa hal sederhana yang bisa kamu coba praktekan di rumah!
1.       Ketika si kecil bertengkar, coba sebisa mungkin sebagai orang tua harus bisa menenangkan diri dan jangan terbawa emosi. Lantas, tenangkan mereka dan minta mereka menjelaskan apa yang terjadi dan juga emosi apa yang mereka rasakan. Biarkan keduanya berbicara tanpa memotong satu sama lain.
2.       Jangan serta merta menolak emosi yang mereka rasakan atau melarang maupun mengecilkan apa yang mereka rasakan. Contoh: “Adik kan cuma pinjam, masa kakak gitu saja marah? Adik juga tidak boleh ya membalas kakak seperti itu”. Meskipun seakan membela kedua belah pihak, anak akan tetap merasa orang tua lebih membela saudara mereka. Ingat! Anakmu belum mampu berpikir sedalam itu.
Saudara akur jika tidak sibling rivalry
Kalau akur begini kan bagus.
3.       Bantu mereka memahami emosi yang dirasakan satu sama lain, dan minta mereka mencari jalan keluarnya bersama. Contoh: “Oke, jadi kakak marah kalau mainannya dipinjam adik, tapi adik juga sedih kalau dicubit kakak. Jadi gimana nih? Kalau adik mau pinjam mainan harus gimana? Kalau kakak gak suka harus gimana?”. Biarkan solusi itu datang dari mereka dan beri ruang untuk mereka menyampaikan harapan masing-masing. Meskipun pemahaman mereka belum sedalam orangtua, anak-anak sudah mampu menyampaikan perasaan mereka kok.
4.       Di akhir, minta mereka untuk berpelukan dan jangan lupa peluk mereka juga dan selalu bilang “I love both of you so much!”
Kalau kamu tertarik dengan informasi lebih lanjut seputar perkembangan anak usia dini dan menjadi orang tua yang super, kamu bisa langsung menuju website Beyond Childhood!
SHARE

Artikel Terkait Lainnya