Kifosis

Sebelum ini kita sudah membahas mengenai osteoporosis pada anak muda. Namun, selain osteoporosis, kifosis atau punggung bungkuk tidak hanya terjadi pada para lansia (lanjut usia) tetapi juga bisa terjadi anak muda dalam masa pertumbuhan lho. Kifosis biasanya terjadi pada wanita lansia, dan meski faktor umur bisa menjadi penyebab terjadinya punggung bungkuk, banyak juga faktor lain yang bisa menyebabkan kifosis terjadi pada anak muda dalam masa pertumbuhan. 

 

Maka dari itu, mari pelajari lebih lanjut mengenai kifosis dan jenisnya disini!

 

Apa itu Kifosis

Kifosis merupakan kelainan yang terjadi pada tulang belakang dan menyebabkan bagian atas punggung melengkung menyerupai bulatan. Hal ini menyebabkan seseorang tampak bungkuk. Meski pada umumnya tulang belakang memiliki lengkungan alami pada kisaran 25-45 derajat, tulang punggung penderita kifosis dapat melengkung hingga 50 derajat atau lebih.

 

Jenis Kifosis dan penyebabnya

Terdapat 3 jenis kifosis yang berbeda dengan faktor penyebab yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis kifosis:

Postural Kyphosis

Postural Kyphosis merupakan jenis kifosis paling umum yang terjadi pada anak muda dalam masa pertumbuhan. Jenis kifosis ini lebih banyak ditemukan pada remaja perempuan dibanding laki-laki dan disebabkan oleh kesalahan pada postur tubuh.

 

Kesalahan ini bisa terjadi karena terlalu membungkuk saat bersandar di kursi atau disebabkan oleh tas sekolah yang terlalu berat. Meski tidak menyebabkan nyeri dan tidak mengganggu saat beraktivitas, Postural Kyphosis dapat menyebabkan kebungkukan pada tulang punggung yang mencapai 50 derajat atau lebih.

 

Scheuermann’s Kyphosis

Scheuermann’s Kyphosis merupakan jenis kifosis yang terjadi saat tulang belakang mengalami kelainan semasa sebelum pubertas. Jenis ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan. Scheuermann’s Kyphosis yang sudah terbentuk sebelum masa pubertas menjadi semakin kaku dan semakin parah seiring masa pertumbuhan hingga berisiko menyebabkan penderita tidak dapat berdiri lurus.

 

Meski tidak terjadi pada semua penderita, jenis kifosis ini dapat menyebabkan nyeri pada bagian yang paling melengkung dan rasa nyeri bisa memburuk saat beraktivitas.

 

Congenital Kyphosis

Berbeda dengan Scheuermann’s dan Postural, Congenital Kyphosis terjadi semasa masih didalam kandungan. Congenital Kyphosis dapat terjadi pada satu atau lebih dari satu tulang belakang dan seiring pertumbuhan anak, kondisinya dapat memburuk saat masa pertumbuhan, karena itu jenis kifosis ini memerlukan operasi secepatnya untuk mencegah kondisi semakin parah.

 

Meski belum diketahui penyebab congenital kyphosis, banyak yang menduga dikarenakan oleh kelainan genetik. Dugaan ini disebabkan oleh beberapa kasus dimana anak yang mengalami jenis kifosis ini berasal dari keluarga yang memiliki Riwayat congenital kyphosis.

 

Gejala Kifosis:

Berikut ini adalah beberapa gejala yang umum ditunjukan oleh penderita kifosis:

  • Tinggi pada bahu kanan dan kiri berbeda.
  • Kepala terlihat lebih maju dibanding bagian tubuh yang lainnya.
  • Saat membungkuk punggung terlihat miring.
  • Sensasi nyeri atau kaku di punggung.
  • Kelelahan.
  • Otot belakang paha terasa kencang.

 

 Gejala yang Berkembang

  • Saat kondisi kifosis memburuk, akan timbul gejala – gejala lainnya seperti berikut:
  • Pola buang air besar dan air kecil berubah
  • Kesulitan menarik napas
  • Masalah pada kaki seperti kaki yang melemah, kaku atau kesemutan

asuransi rawat jalan

Faktor Risiko Kifosis

Kifosis bisa terjadi pada siapa saja, tetapi risiko terkena kifosis bisa meningkat apabila memiliki beberapa kondisi di bawah ini:

Skoliosis

Skoliosis juga merupakan penyakit tulang belakang dimana tulang belakang akan membentuk lengkungan seperti huruf S.

 

Osteoporosis

Penyakit yang menyebabkan kepadatan tulang untuk berkurang, ini menyebabkan kebengkokan pada tulang belakang.

 

Baca Juga: Apakah Anak Muda Bisa Terkena Osteoporosis?

 

Osteogenesis Imperfecta

Ini merupakan penyakit dimana tulang memiliki yang mudah patah dan rapuh meski hanya menerima sedikit tekanan.

 

Spina Bifida

Penyakit ini merupakan bawaan sejak lahir dimana pembentukan tulang belakang dan saraf tulang belakang tidak sempurna.

 

Paget

Penyakit ini mempengaruhi regenerasi tulang dan bisa menyebabkan kerapuhan pada tulang.

 

Tuberkulosis

Penyakit TBC atau tuberkulosis kebanyakan menyerang paru – paru, tetapi juga bisa menyerang tulang belakang. TBC tulang bisa menyebabkan kerusakan pada tulang belakang dan memicu terjadinya kifosis.

 

Fraktur Kompresi

Ini adalah lengkungan yang terjadi karena patahnya tulang belakang akibat tekanan.

 

Kanker dan Pengobatan Kanker

Penyakit kanker bisa menyebar hingga tulang belakang, selain itu perawatan kanker sepert kemoterapi atau radioterapi juga bisa menyebabkan melemahnya tulang belakang hingga lebih rentan untuk mengalami perubahan bentuk dan patah tulang.

 

Baca Juga: Tingkatan Stadium Kanker Secara Umum, Apa Saja Artinya?

 

Distrofi Otot

Ini adalah penyakit genetik yang menyebabkan otot untuk melemah.

 

Neurofibromatosis

Ini merupakan kelainan genetik yang bisa menyebabkan terbentuknya tumor pada sistem saraf.

 

Cedera Tulang Belakang

Cedera tulang belakang juga ditemukan bisa memicu terjadinya kifosis.

 

Degenerasi Bantalan Sendi Tulang Belakang

Seiring bertambahnya usia, maka bantalan tulang belakang akan menyusut dan menyebabkan susunan tulang belakang untuk berubah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya kifosis.

 

Kondisi Medis Lainnya

Apabila anak kecil memiliki kondisi seperti sindrom Marfan atau sindrom Ehlers – Danlos, ini juga bisa memicu terjadinya kifosis pada anak – anak.

 

 

 

Waktu yang Tepat untuk Melakukan Pengecekan Ke Dokter

Tidak ada bagusnya untuk menunda. Setelah melihat adanya masalah postur seperti lengkungan pada tulang belakang atau membungkuk pada diri sendiri, anak, maupun seseorang, segera lakukan atau sarankan untuk melakukan pengecekan ke dokter.

 

Masalah postur ini bisa disertai dengan keluhan mengenai nyeri punggung, sesak napas, atau pun tubuh yang terasa lemas. Semakin lama menunda pemeriksaan akan semakin lama untuk mendapatkan penanganan dini dan mencegah pertumbuhan tulang untuk menjadi semakin melengkung.

 

Diagnosis Kifosis

Untuk melakukan diagnosis kifosis, langkah awal yang akan dilakukan oleh dokter adalah dengan mempertanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik akan dilakukan kemudian seperti berikut ini:

  • Mengukur tinggi badan pasien
  • Menganalisa lengkung tulang belakang pasien
  • Melihat kondisi punggung pasien saat tiduran, apakah akan lurus atau masih melengkung

 

Dari ketiga analisis ini akan bisa mengambil kesimpulan mengenai kifosis yang diderita. Bila saat tiduran tulang lurus, maka diduga memiliki postural kyphosis, tetapi apabila saat tiduran tulang masih bengkok maka pasien kemungkinan memiliki Scheuermann’s atau congenital kyphosis.

 

Selain pengecekan fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan saraf agar bisa mengetahui kondisi refleks dan kekuatan otot pasien. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah kifosis telah mempengaruhi saraf tulang belakang atau belum. Ini adalah beberapa pemeriksaan lainnya yang bisa membantu dokter untuk mengambil kesimpulan:

Foto Rontgen, CT scan atau MRI yang diperlukan untuk menghitung lengkungan tulang belakang, mendeteksi apa tulang belakang memiliki kelainan bentuk, memeriksa adanya kemungkinan infeksi atau tumor pada tulang belakang, dan kondisi saraf tulang belakang.

Melakukan tes fungsi saraf untuk menguji refleks saraf.

Mengecek kepadatan tulang untuk mengetahui perubahan disebabkan oleh kerapuhan atau bukan.

 

Komplikasi Kifosis

Biasanya kifosis juga bisa disertai dengan komplikasi lainnya apabila tidak ditangani dengan cepat:

Gangguan Pernapasan

Kondisi kifosis yang parah bisa menyebabkan tekanan pada paru – paru dan untuk penderita mengalami gangguan pernapasan.

 

Gangguan Pencernaan

Kondisi kifosis yang parah bisa menekan saluran pencernaan dan menyebabkan penyakit seperti maag atau kesusahan untuk menelan.

 

Gerak Tubuh yang Terbatas

Penderita kifosis bisa mengalami kesulitan untuk bergerak seperti berjalan, berdiri, mengangkat kepala dan kadang nyeri saat berbaring.

 

Penampilan yang Mencolok

Kifosis menyebabkan postur tubuh terlihat mencolok dengan tulang punggung yang melengkung. Ini bisa menyebabkan penderita untuk merasa kurang percaya diri dan malu untuk bersosialisasi.

 

Cara Menangani Kifosis:

Apabila melihat tanda-tanda kifosis, segera lakukan kunjungan ke dokter untuk segera ditangani dan mencegah tulang belakang semakin melengkung. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan adalah:

  • Fisioterapi untuk menangani kifosis ringan.
  • Apabila masih anak-anak dengan scheuermann’s kyphosis, menggunakan penyangga punggung hingga usia 14-15 tahun dapat membantu mencegah tulang belakang makin melengkung.
  • Operasi biasanya dilakukan pada pasien yang penderita congenital kyphosis atau scheuermann’s kyphosis dimana lengkungan tulang belakang mencapai 70-75 derajat, kondisi kifosis disertai dengan sensasi nyeri yang parah dan saat kondisi kifosis telah menjepit saraf tulang belakang.

 

 

Pencegahan Kifosis

Apabila kifosis terjadi karena postur yang buruk, berikut ini adalah pencegahannya:

  • Biasakan duduk tegak
  • Tidak membawa barang berat di punggung
  • Menguatkan otot perut dan punggung
  • Pastikan berat badan ideal
  • Lakukan olahraga yang bisa membantu kelenturan tulang punggung dan menjaga kekuatan seperti lari atau renang.

 

Nah, sudah mengertikan mengenai kifosis? Mari mulai memperbaiki postur dan perhatikan apabila kita melihat gejala ini pada diri kita atau orang lain!

 

Baca Juga: Jaga Imun, Cobain 13 Makanan yang Mengandung Vitamin D Tinggi