kanker serviks

Kanker serviks adalah sebuah jenis kanker yang bertumbuh pada daerah bagian bawah rahim yang disebut juga sebagai serviks atau leher rahim. Sekitar 99% kasus kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus yang satu ini dapat menular melalui aktivitas seksual. 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang kanker serviks, yuk simak artikelnya!

 

1. Apa Penyebab Kanker Serviks?

Kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus ini menular melalui aktivitas seksual, baik itu kontak seksual dengan manusia terinfeksi atau benda terkontaminasi.

HPV sendiri adalah sebuah kelompok virus. Tipe variannya pun bisa mencapai lebih dari 100 jenis. Beberapa tipe HPV tidak terlalu berbahaya dan dapat tersingkirkan oleh imun tubuh. 

Namun, setidaknya ada 15 jenis HPV yang mempunyai risiko tinggi untuk menyebabkan kanker serviks, seperti HPV 16 dan HPV 18. Jenis HPV tersebut dapat menyebabkan fungsi kerja sel secara normal, yang menyebabkan sel bermutasi menjadi sel kanker.

Di Mana Sel Kanker Bisa Bertumbuh?

Berdasarkan tempat berkembangnya sel kanker di rahim, ada dua jenis kanker serviks, yaitu karsinoma sel skuamosa (KSS) dan adenokarsinoma. 

Biasanya KSS lebih sering terjadi, dimana pertumbuhan sel kanker berada pada bagian luar leher rahim. Sementara pada kasus adenokarsinoma, pertumbuhan kanker terjadi pada sel kelenjar di leher rahim. 

Namun, selain kedua tempat ini, sel kanker bisa bertumbuh di tempat lain. Hanya saja kasus tersebut tidak umum.

 

2. Apa Gejala Kanker Serviks?

Tidak ada gejala awal untuk kanker serviks. Karena itu, biasanya kanker serviks tidak terdeteksi sampai sudah mencapai stadium lanjutan. Maka dari itu, ada pentingnya bagi kamu untuk melakukan pemeriksaan rahim secara berkala.

Berikut adalah beberapa gejala kanker serviks yang mungkin muncul:

  • Pendarahan yang tidak wajar dari vagina, yang dapat terjadi ketika:
    • Tidak sedang menstruasi;
    • Sedang atau setelah melakukan hubungan seksual;
    • Setelah kamu sudah menopause;
  • Rasa sakit atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual;
  • Rasa sakit di bagian bawah punggung atau pinggul.

Selain daripada ini, ada beberapa juga ciri-ciri kanker serviks lainnya. Jika kamu mengalami salah satu kondisi di atas, ada baiknya kamu memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit terdekat.

 

3. Berapa Peluang Selamat?

Kemungkinan selamat lebih tinggi jika pendeteksian kanker serviks terjadi dini. Jika stadiumnya masih awal, maka angka harapan hidupnya lebih tinggi. Angka tersebut merepresentasikan kemungkinan pasien masih hidup 5 tahun pasca terdiagnosa kanker serviks.

Jika angka harapan hidupnya adalah 90%, maka 9 dari 10 pasien akan tetap hidup bahkan setelah 5 tahun dari diagnosa. Berikut kurang lebih gambaran harapan hidup sesuai tingkatan stadium kanker serviksnya ketika terdiagnosa:

  • 80 hingga 93 persen untuk stadium 1
  • 58 hingga 63 persen untuk stadium 2
  • 32 hingga 35 persen untuk stadium 3
  • Kurang dari 16 persen untuk stadium 4

Maka dari itu, penting bagi kamu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Terutama jika kamu sudah berusia di atas 21 tahun dan/atau sudah menikah. Pendeteksian lebih awal pun bisa menyelamatkan nyawamu.

Baca Juga :

 

4. Apakah Ada Obat Kanker Serviks?

Biasanya perawatan kanker serviks menggunakan berbagai jenis terapi dan pembedahan. Tentunya pemilihan jenis perawatan ini akan dokter rekomendasikan berdasarkan kondisi kesehatan dan seberapa lanjut stadium kanker serviks dari pasien.

Berikut beberapa pilihan perawatan yang mungkin pasien kanker serviks harus lalui: 

Operasi atau Pembedahan

Pasien kanker serviks pada umumnya melalui proses pembedahan, baik di stadium awal mau pun lanjutan. Pada stadium awal, biasanya operasi digunakan untuk mencegah pembentukan kanker lebih lanjut. Tekniknya antara lain adalah operasi ablasi dan konisasi.

Asuransi Penyakit Kritis

Ablasi

Operasi ablasi sendiri bertujuan untuk menghancurkan sel kanker pada leher rahim, biasanya menggunakan suhu dingin atau laser. Contoh operasi ablasi antara lain:

  • Cryosurgery, dimana nitrogen cair dapat mendinginkan sel abnormal hingga temperatur yang sangat rendah.
  • Laser, dimana sinar laser menguapkan sel kanker ketika ditembak ke dalam vagina. Umumnya pembedahan dilakukan dengan bius lokal.

Konisasi

Proses ini memotong dan mengangkat jaringan yang terjangkit sel kanker sebelum bertumbuh dan menyebar. Teknik konisasi sendiri dapat dilakukan dalam berbagai cara, misalnya menggunakan pisau bedah (biopsi kerucut), laser, atau kawat tipis yang dipanaskan dengan listrik (LEEP).

Operasi Lainnya

Selain daripada teknik operasi ablasi dan konisasi, ada juga beberapa jenis operasi lainnya yang bertujuan untuk perawatan kanker, antara lain:

  • Histerektomi sederhana, dimana terjadi pengangkatan rahim dan leher rahim.
  • Histerektomi radikal, dimana terjadi pengangkatan rahim, jaringan di sekeliling rahim, leher rahim, dan bagian atas vagina yang bersebelahan dengan rahim. Biasanya beberapa kelenjar getah bening juga dapat terangkat. Pada umumnya, ovarium tidak diangkat kecuali diperlukan secara medis.
  • Trakelektomi, dimana pengangkatan leher rahim dan bagian atas vagina, tapi menyisakan rahim. Dengan begitu, pasien pun masih tetap bisa mengandung walaupun leher rahim sudah terangkat.

Terapi Radiasi

Jenis terapi ini menggunakan x-ray berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Terapi ini bisa berdiri sebagai perawatan sendiri, perawatan setelah pembedahan, atau berdampingan dengan kemoterapi.

Biasanya untuk kanker serviks, perawatan terapi radiasi berupa:

  • Sinar radiasi eksternal, dimana mesin memancarkan sinar x-ray dari luar tubuh. Biasanya terapi satu ini berdampingan dengan kemoterapi.
  • Brakiterapi atau sinar radiasi internal, dimana pemancar radiasi berada di dalam atau dekat dengan kanker. Untuk kanker serviks, jenis brakiterapinya adalah brakiterapi intrakavitas, dimana sebuah alat pemancar radiasi dimasukkan ke dalam vagina atau leher rahim. Biasanya terapi ini juga berdampingan dengan sinar radiasi eksternal.

Merokok dapat memperparah efek samping yang ada dari radiasi, serta membuat perawatan kurang efektif. Karena itu, jika kamu perokok aktif, cari cara berhenti merokok.

Kemoterapi

Kemo menggunakan obat anti kanker yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan atau secara oral (dari mulut). Tidak semua pasien kanker serviks memerlukan kemoterapi. 

Obat kanker serviks yang paling umum digunakan untuk merawat kanker serviks adalah cisplatin, taxol, topotecan, serta carboplatin. Biasanya penggunaan obat pun bisa dicampur.

Terapi Target

Terapi target adalah penggunaan obat kanker serviks yang menargetkan sel-sel abnormal kanker. Biasanya obat menargetkan protein VEGF atau faktor pertumbuhan endotel vaskular, dimana protein tersebut membantu pertumbuhan tumor. 

Contoh dari obat ini adalah Bevacizumab. Obat yang satu ini biasanya berdampingan dengan kemoterapi. Namun, bisa juga berdiri sendiri tanpa adanya kemoterapi, ketika kanker tidak lagi menunjukkan pertumbuhan.

Terapi Imun

Jenis terapi ini memberikan obat melalui infus untuk merangsang sistem imun pasien agar mengenali dan menghancurkan sel kanker secara efektif. Biasanya perawatan yang satu ini digunakan bila sel kanker mulai menyebar, atau ketika sel kanker muncul kembali.

Contoh obat yang digunakan dalam terapi imun adalah Pembrolizumab, dimana obat tersebut menargetkan protein PD-1 yang ada pada sel imun sistem bernama limfosit T. Hal ini membantu meningkatkan respons imun terhadap kanker dan dapat memperkecil tumor atau setidaknya memperlambat pertumbuhannya.

Sequis

5. Langkah Pencegahan Kanker Serviks

Daripada susah-susah perawatan, ada baiknya jika kita bisa mencegah risiko kanker serviks. Kamu pun bisa melakukannya dengan:

  • Menggunakan kondom saat bersetubuh;
  • Mendapatkan vaksinasi HPV, jika masih berusia 9-26 tahun.
  • Melakukan pengecekan pap smear secara berkala, setidaknya 3-5 tahun sekali.
  • Hindari kebiasaan merokok.

Selain daripada itu, kamu juga bisa mengantisipasi risiko kanker melalui asuransi kesehatan. Misalnya saja, asuransi penyakit kritis Super Well yang bisa meng-cover biaya kesehatan kamu hingga Rp 1 M per tahunnya. 

Tidak harus mahal kok, kamu pun bisa mendapatkan asuransi ini dengan membayar premi mulai dari Rp50.000 per bulannya. Mengingat produk ini menutupi semua biaya tagihan rumah sakit kamu sesuai tagihan, lumayan, ‘kan?

Artikel Terkait Lainnya