difteri

Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diphteriae. Bakteri tersebut menyerang saluran pernapasan yaitu hidung dan tenggorokan. Penyakit ini dapat dialami oleh semua golongan umur, namun yang paling beresiko adalah anak yang berusia dibawah 5 tahun dan orang tua yang berusia diatas 60 tahun.

Penyakit difteri adalah penyakit yang sangat menular dan dapat mengancam jiwa. Berdasarkan informasi dari Word Health Organization (WHO), tercatat 3.353 kasus difteri di Indonesia dari tahun 2011 hingga tahun 2016. Dari data yang tercatat tersebut, telah disimpulkan bahwa Indonesia eah menjadi urutan kedua kasus difteri terbanyak setelah India. Telah ditelusuri bahwa hampir 90% dari orang yang terinfeksi difteri adalah orang yang tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Sisanya, kemungkinan besar disebabkan oleh:

  • Hidup di area padat penduduk dengan tingkat kebersihan buruk
  • Mengunjungi wilayah yang sedang terjadi wabah difteri
  • Kekebalan tubuh yang rendah, salah satunya menderita AIDS

Difteri umumnya memiliki rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh atau yang biasa disebut masa inkubasi sampai gejala muncul antara 2 hingga 5 hari.

Berikut beberapa gejala dari penyakit difteri:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat (baca: 9 cara mengatasi sesak napas)
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Tubuh terasa lemas dan mudah lelah.
  • Mengalami pilek yang awalnya cair, tetapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

asuransi covid

Baca Juga :

 

Seorang dokter dapat mendiagnosa penyakit difteri apabila dokter sudah menanyakan seputar gejala yang dialami pasien, lalu dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan, hidung atau ulkus di kulit yang akan diperiksa di laboratorium.

Jika ada orang yang berada di dekat pasien atau melakukan kontak fisik, sangat disarankan orang tersebut memeriksakan diri ke dokter mengingat penyakit ini sangat mudah menular.

Dokter pada umumnya akan memberikan antibiotik untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi yang dialami oleh pasien. Untuk dosis antibiotiknya sendiri diberikan tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lamanya pasien mengalami atau menderita penyakit difteri.

Pencegahan penyakit difteri yang paling efektif dilakukan adalah menerima vaksin. Vaksin yang digunakan untuk mencegah difteri adalah vaksin DTP, dimana vaksin ini selain mencegah difteri dapat mencegah tetanus dan pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DTP merupakan salah satu vaksin imunisasi yang wajib diberikan kepada anak-anak di Indonesia pada saat berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun dan lima tahun. Total vaksin DTP hingga komplit diberikan kepada anak total 5 kali. Pada usia 10 dan 18 tahun, diberikan booster dengan vaksin sejenis. Setelah menerima vaksin secara lengkap, umumnya anak-anak akan terlindungi dari penyakit difteri seumur hidup.

Pencegahan lainnya yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terserang penyakit difteri adalah menghindari kontak langsung dengan penderita difteri, karena penularan difteri terjadi pada saat orang menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita difteri pada saat batuk dan bersin. Selain itu, penggunaan alat makan seperti gelas dan sendok bahkan barang-barang lainnya yang sebelumnya sudah digunakan oleh penderita difteri juga dapat menjadi faktor penularan karena alat makan tersebut sudah terkontaminasi oleh air liur penderita.

Lindungi Diri dengan Asuransi Kesehatan

Untuk melindungi diri dari penyakit infeksi dan menular, kamu bisa menggunakan asuransi kesehatan Super Care, premi mulai dari Rp 50 ribu-an per bulan. Selain itu, ada juga asuransi kesehatan My Hospital dengan santunan harian. Cukup beberapa klik, proses mudah dan cepat, kamu terlindungi! Yuk, cek produknya.

Asuransi Penyakit Kritis