perencanaan keuangan

Setiap mimpi bisa diwujudkan. Namun, sayangnya setiap mimpi membutuhkan kerja keras, serta uang. Maka dari itu, financial freedom atau kemerdekaan finansial menjadi salah satu tujuan perencanaan keuangan banyak orang. Katanya sih, biar hidup enak. 

Sebenarnya kemerdekaan finansial itu bukan suatu yang tidak mungkin. Siapapun bisa mencapainya dengan kerja keras dan juga disiplin dalam merencanakan dan mengatur keuangan masing-masing. 

Di Hari Keuangan Nasional tahun 2020 ini, yuk kita belajar 7 hal paling penting saat melakukan perencanaan keuangan pribadi atau rumah tangga. Simak artikel berikut!

1. Rutin menabung

Kunci pertama dari perencanaan keuangan pribadi merupakan menabung. Berapa pun gaji kamu, pastikan bahwa kamu tetap memprioritaskan menabung dibanding membeli barang yang bukan merupakan kebutuhan.

Idealnya, seseorang mempunyai rasio tabungan lebih dari 20% per tahun. Ini berarti pendapatan kamu per tahun, harus kamu sisihkan minimal 20%nya untuk menabung. Jika lebih besar, lebih baik lagi. 

Contohnya bila kamu mempunyai gaji bulanan Rp4 Juta, maka kamu harus menyisihkan Rp800 ribu per bulannya. Tabung uang tersebut pada saat menerima gaji untuk menghindari keinginan belanja. Untuk mempermudah, kamu bisa membaginya menjadi lebih kecil lagi, seperti targetkan Rp200.000 per minggu atau Rp40.000 per hari.

Dengan cara menabung yang tepat, diyakini kamu pun bisa menabung cukup banyak walaupun dengan gaji yang sedikit. 

2. Mempunyai passive income

Selain menabung dan menghemat, kamu juga harus bisa mulai memikirkan cara mendapatkan passive income atau pendapatan pasif. Pendapatan pasif adalah sebuah pemasukan yang bisa kamu dapatkan saat kamu tidak melakukan apa-apa, bahkan saat sedang tertidur. 

Di zaman modern ini, ada berbagai macam cara mendapatkan passive income, antara lain dengan: Membuat & memonetisasi blog, menjadi YouTuber / influencer, menulis eBook, melakukan investasi, beli properti kemudian disewakan, dan lainnya. 

Target ideal untuk perencanaan keuangan adalah kamu bisa mendapatkan pendapatan pasif yang 50% lebih banyak dari pendapatan bulanan kamu sekarang. 

Butuh Pendapatan Tambahan Tapi Belum Ada Ide?

3. Sanggup mengelola utang

Terkadang untuk bisa mampu mengadakan suatu kebutuhan, kita perlu berutang. Contohnya saat harus membeli rumah, kita harus mengajukan kpr. Jika harus membeli handphone baru untuk keperluan kantor, kita harus menggunakan kartu kredit. 

Jika bisa sanggup membayar dan menabung lebih, sebaiknya memang hindari utang. Namun, di saat utang tidak terhindar, pastikan kamu tetap mengontrolnya. Ikuti saja 3 tips berikut: 

  1. Pastikan utang yang dimiliki tidak lebih dari 50% total aset.
  2. Idealnya utang tidak lebih dari 30% pendapatan bulanan, maksimal 35%.
  3. Dari 35% tersebut, batasi utang produktif menjadi 20% dan utang konsumtif menjadi 15% saja.

Sebelumnya, utang produktif merupakan utang yang dapat menambah pendapatan atau aset yang dimiliki. Contoh: Meminjam uang untuk kuliah (pendidikan bisa menambah pendapatan di masa depan), membeli rumah atau tanah dengan kpr (karena harganya akan naik), atau pun pinjaman untuk memulai bisnis. 

Sementara itu utang konsumtif adalah barang-barang yang nilainya akan mengalami penurunan atau devaluasi. Contoh: Beli gadget, pakaian mewah, atau kendaraan pribadi. 

Contohnya kamu mempunyai gaji sebesar Rp8 Juta per bulan, serta total aset sebesar Rp50 Juta dari menabung. Kamu ingin menyicil motor baru. Karena motor merupakan bagian dari utang konsumtif, maka ada baiknya kamu: 

  1. Mengambil harga motor yang tidak lebih dari 50% total aset, yaitu Rp25 Juta. 
  2. Mengambil cicilan bulanan yang tidak lebih dari 15% dari pendapatan bulanan, yaitu Rp1,2 Juta per bulan. 
Maka kamu bisa mencoba untuk membeli motor dengan harga Rp24 Juta yang dicicil selama 2 tahun, sehingga cicilan kamu tidak melebihi budget.  

4. Tidak rentan bangkrut

Jangan meremehkan, kamu pun bisa mengalami risiko bangkrut. Untuk menghindarinya, kamu harus mempunyai rasio solvabilitas lebih dari 50%. Rasio solvabilitas merupakan perbandingan kekayaan yang kamu miliki sesungguhnya (kekayaan bersih) terhadap seluruh total asset yang kamu miliki. Secara singkatnya:

Total kekayaan bersih = Total aset — total jumlah kewajiban (utang jangka pendek, menengah, maupun panjang) Sebagai contoh: 

Total aset kamu adalah Rp100 Juta. Namun, kamu masih mencicil mobil dengan sisa utang Rp30 Juta. Ini berarti total kekayaan bersih kamu hanya Rp70 Juta dan rasio solvabilitas kamu adalah 70%, sehingga rasio solvabilitas kamu masih aman.

Sudah Atur Keuangan Berdasarkan Kebutuhan?

5. Menyimpan dana darurat

Dana darurat merupakan salah satu dasar dalam perencanaan keuangan karena menyediakan “jaring” pengaman bagi kamu dan bisa digunakan dalam keadaan darurat. Idealnya adalah kamu mempunyai dana darurat sebesar 6-12 kali dari pengeluaran bulanan. 

Hal ini terutama penting di masa pandemi dan bagi kamu yang sudah berkeluarga. Dengan begitu, kamu bisa aman jika misalnya kamu (amit-amit) kena PHK atau tidak bisa bekerja karena terkena dampak dari COVID-19.

6. Mempunyai asuransi

Selain dana darurat, kamu juga dianjurkan menyisihkan 10% dari seluruh pendapatan bulanan kamu untuk perlindungan finansial. Terutama untuk asuransi jiwa dan kesehatan. 

Pilih jenis asuransi yang tepat untuk kamu, yang sesuai dengan kebutuhan kamu. Kamu pun tidak perlu khawatir jika gaji kamu masih sedikit. Coba memulai berasuransi dengan produk asuransi online yang lebih terjangkau. Hanya sebatas Rp30.000-an saja per bulan, kamu bisa mendapatkan perlindungan finansial hingga ratusan juta bila terkena risiko finansial tak terduga. 

SHARE

Artikel Terkait Lainnya