Baca 4 cara produktif di rumah

Memasuki sebulan semenjak Presiden Joko Widodo menyuruh semua orang untuk “sekolah di rumah, kerja di rumah, ibadah di rumah”, konsep work from home mungkin sudah menjadi rutinitas biasa untuk kamu yang bekerja dari rumah. Namun, coba cek dulu apakah produktivitas kamu menurun?

Gak sabar keluar rumah? Cek angka penyebaran Corona di sini aja!

Nyatanya bekerja dari rumah tidak segampang dan seenak yang orang mungkin kira. Betul, kita tidak perlu membuang waktu untuk pergi ke kantor dan pulang. Namun, perlu diingat bahwa bekerja dari rumah mempunyai tiga musuh besar, yaitu banyaknya gangguan yang memecah fokus (distraction), kejenuhan, dan kemalasan.
Jadi apa yang harus kamu lakukan untuk melawan tiga musuh besar ini? Yuk langsung simak 4 cara tetap produktif walau work from home!

1. Replikasi Situasi Kantor

Rumah itu ibaratkan sarang bagi manusia. Jadi otomatis otak kita sudah mengasosiasikan rumah dengan istirahat. Nah, hal ini bisa menyebabkan kamu untuk malas dalam bekerja jika sedang di rumah.

“Rumah mah untuk istirahat!” protes otakmu.
Untuk bisa meyakinkan otakmu, kamu harus bisa mengelabuinya. Bagaimana caranya? Dengan melakukan hal-hal yang mengingatkan otakmu dengan kerja seperti biasa.
Pertama, buat lingkungan kerja kamu senyaman dan sepersis mungkin dengan di kantor. Jadi pastikan kamu mempunyai meja dan kursi yang nyaman, siapkan laptop dan charger, handphone kamu dan powerbank di sisi kiri, mungkin tumblr yang sudah berisi air mineral atau kopi, juga hal-hal lainnya yang biasa menemani kamu di kantor. Buat ulang situasi kantor dan pindahkan situasi tersebut ke rumah.
Kedua, pastikan dirimu mendapatkan masa transisi dari bangun tidur ke kerja. Ini artinya jangan bekerja dalam piyama atau baju rumah. Samakan rutinitasmu dengan kerja biasa. Bangun pagi, regangkan sendi, mandi dan sikat gigi, ganti baju, mungkin memakai riasan wajah untuk yang wanita, mungkin buatkan dirimu secangkir kopi dulu atau bahkan makan pagi dulu sebelum kamu mulai bekerja.
Ketiga, jika kamu mudah terpecah fokusnya, pastikan kamu sudah mematikan semua hal yang mungkin bisa mengganggumu selama bekerja. Contohnya TV yang menyala, notifikasi sosial media kamu, atau bahkan nyamannya ranjang kamu. Pastikan kamu nyaman tapi jangan terlalu nyaman hingga malas.

Lindungi diri dari Corona dengan Super Strong

2. Terapkan Jalur Komunikasi yang Efektif

Sayangnya kita tidak akan bisa sepenuhnya membuat ulang situasi kantor karena di rumah tentunya tidak ada teman kantor untuk diajak bercakap atau makan siang.

Karena terpisah, tentunya komunikasi untuk urusan pekerjaan agak terganggu selama work from home. Karena itu kamu harus lebih memperhatikan bagaimana kamu berkomunikasi dengan teman kantormu.
Musuhmu disini adalah miskomunikasi. Menurut Scribendichat tidak bisa menyampaikan nada bicara, intonasi, ekspresi, dan lainnya, sehingga ada kemungkinan bahwa pesan yang dikirim bisa disalah artikan atau disalah mengerti.
Karena itu batasi komunikasi melalui chat, kalau bisa pakai chat untuk keperluan seperti mengirim link atau dokumen saja. Selebihnya jika ada yang kamu ingin diskusikan dengan teman kantor, maka sebaiknya didiskusikan lewat voice call atau video call agar tidak terjadi salah paham atau miskomunikasi.
Lindungi diri dari Corona dengan Super Life

3. Beri dirimu waktu untuk istirahat

Jika kamu tidur di rumah, bekerja di rumah, makan di rumah, terkadang jadi susah untuk membedakan waktu kerja dan kehidupan pribadi. Rasanya sudah campur aduk. Jika kamu ditanya teman sekantor tentang kerjaan pada jam 11 malam, kamu pun merasa harus menjawab karena kantormu ada di rumah sekarang.

Untuk cara produktif work from home yang satu ini, kamu harus bisa membedakan waktu kerja dan kehidupan pribadi. Batasi jam kantor selama 8-9 jam saja, tergantung kebijakan kantormu. Selebihnya pastikan kamu punya waktu untuk keluarga dan bersantai.
Untuk mempunyai hasil yang lebih produktif, mungkin kamu juga bisa mencoba Pomodoro Technique atau Teknik Pomodoro.

Apa itu Teknik Pomodoro?

Teknik Pomodoro bertujuan untuk meningkatkan fokus dan produktivitas kamu selama bekerja dengan menyisipkan istirahat singkat di antara pekerjaan. Ikuti langkah-langkah berikut untuk menerapkan Teknik Pomodoro:
  • Buat to-do list. Tulis di secarik kertas apa saja yang kamu harus lakukan hari ini
  • Tetapkan prioritas dari tugas dan pilih satu yang paling mendesak untuk dilakukan
  • Atur timer menjadi 25 menit dan buat janji pada dirimu: Aku akan fokus untuk mengerjakan satu tugas ini selama 25 menit. Urusan selesai atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting adalah aku fokus tanpa interupsi apapun.
  • Kerjakan tugas itu sampai timer berbunyi. Fokus pada satu tugas itu. Jika kamu teringat hal lain yang harus kamu lakukan, tulis di kertas to-do list kamu.
  • Istirahat selama 5 menit. Tarik napas, buatkan dirimu secangkir kopi, isi ulang botolmu, ke toilet, atau bahkan keliling komplek selama 5 menit. Lakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan kerja.
  • Refleksikan hasilnya. Disini kamu bisa menentukan apakah hasilnya cukup memuaskan atau tidak. Jika belum selesai, kamu bisa melanjutkannya selama 25 menit dan mengambil istirahat lagi. Jika sudah selesai, kamu bisa mencoret tugas ii dari to-do list kamu dan berlanjut ke tugasmu yang lain.
  • Ambil istirahat yang lebih lama. Jika kamu sudah mengulang siklus ini selama 4 kali (4 x 25 menit bekerja), maka ambil istirahat yang sedikit lebih lama, seperti 20-30 menit.
Dan teknik ini ampuh lho!
Dengan memecah tugasmu menjadi sesi kerja selama 25 menit, kamu akan lebih produktif karena tidak akan mengalami kelelahan atau kejenuhan, bisa memecah tugas menjadi lebih kecil dan berdasarkan prioritas, meminimalisir gangguan, dan mengoptimalkan waktu kerja kamu.

Kelebihan dari teknik Pomodoro

Menurut Workzone, berikut kelebihan dari teknik Pomodoro:
  • Jadi terlatih untuk menghindari interupsi kerja.
  • Bisa lebih baik memperkirakan waktu dan tenaga yang kamu harus keluarkan untuk suatu tugas.
  • Kamu bekerja lebih efisien, hanya dengan 25 menit.
  • Lebih mudah untuk kamu bisa melihat hal apa yang perlu diperbaiki.
Jika kamu merasa 25 menit terlalu sebentar untuk tugas-tugas kantormu, kamu bisa mencoba dengan teknik yang sama namun ubah menjadi 50 menit bekerja dan 10 menit istirahat. Setelah 2 kali bekerja 50 menit, ambil waktu istirahat sekitar 20-30 menit.
Ask Sovia Be Super You

4. Penuhi kebutuhan dasar kamu

Walaupun harus fokus kerja, jangan lupa untuk tetap memenuhi kebutuhan dasar kamu.
Teori Maslow mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai sebuah piramida kebutuhan.

Cara produktif di rumah dengan mengenal Teori Maslow

Karena itu, untuk kamu bisa bekerja dengan produktif dan menghasilkan sesuatu (berada di kategori self-actualization), maka kamu harus bisa memenuhi kebutuhan kamu yang ada di dasar piramida.

Apa artinya? Pastikan kamu minum dan makan yang sehat, olahraga yang rutin, dan mendapatkan tidur yang cukup.

Selengkapnya untuk tips olahraga, baca  di sini!

Jaga juga kesehatanmu dan jangan terlalu terbawa dengan situasi pandemi ini. Lakukan tindakan-tindakan pencegahan walaupun di rumah saja. Pakai masker jika keluar rumah.
Selain itu, pastikan bahwa kamu tidak merasa terisolasi secara sosial. Jangan terus-menerus bekerja hingga lupa untuk ngobrol dengan keluarga atau teman. Jika kamu sendirian saja di rumah, setidaknya berbincanglah dengan seseorang melalui video call.

Selamat Bekerja!

Ingat ya, Teman Superjuangan, bekerja yang produktif bukan berarti kamu terus-menerus bekerja. Semua orang punya batas, baik dari energi maupun fokus.

Kerja yang produktif berarti kamu bisa memprioritaskan tugasmu, membaginya dengan baik, memaksimalkan waktu yang ada, dan membagi waktu antara istirahat dan bekerja. Sekian tips dan cara produktif bekerja di rumah dari Super You.
Jadi selamat bekerja ya, Teman Superjuangan. Stay safe and stay healthy!
Referensi:
  • Scribendi (2020). Miscommunication: The Problem with Texting.
  • Andrew McDermott (2017). 4 To-Do List Formats To Be More Productive | Workzone.
  • Cirillo Consulting GmbH (2020). The Pomodoro Technique – proudly developed by Francesco Cirillo.
  • Saul McLeod (2020). Maslow’s Hierarchy of Needs | Simply Psychology.
SHARE

Artikel Terkait Lainnya